Posts Tagged ‘emosi

06
Okt
09

Eksklusifitas: emosi atau kebutuhan

Paruh kedua tahun 2009, media di Indonesia banyak mendapat makanan empuk berupa berita-berita besar yang terjadi di negeri ini. Mulai dari peledakan bom JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta hingga penangkapan teroris, berbagai kasus korupsi hingga intrik KPK yang tak kunjung usai dan gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat di akhir September – awal Oktober 2009.

Radio, televisi, media cetak dan internet berlomba menyajikan berita paling cepat dan paling eksklusif. Eksklusifitas sebuah berita yang kita peroleh kadang membuat kita – secara emosional – ingin menunjukkan bahwa kita ‘lebih’ dibandingkan media kompetitor. Hal ini tidak salah dan merupakan kebanggaan yang perlu kita bagikan kepada pendengar / penonton. Harus diakui bahwa kecepatan dan eksklusifitas berita yang kita peroleh dipastikan dapat membantu meningkatkan jumlah pendengar / penonton kita. Lanjutkan membaca ‘Eksklusifitas: emosi atau kebutuhan’

29
Okt
08

PRIVATE ANNOUNCER

ditulis oleh: Huria Ulfa

Saya ingin manambahkan sedikit ilustrasi saat penyiar melakukan tugasnya. Dalam beberapa tulisan, saya setuju dengan cara penyampaian informasi oleh seorang penyiar secara one by one kepada pendengar. Artinya bahwa penyiar memvisualisasikan dirinya sedang berbicara kepada seorang pendengar atau sekelompok kecil pendengar, bukan kepada banyak pendengar saat berbicara atau menyampaikan informasi kepada pendengar. Hal ini bertujuan untuk menyentuh pendengar secara personal, dan bila ini divisualisasikan, bagi pendengar akan terasa bahwa penyiar sedang berbicara kepada diri pendengar. Dan pendengar pun akan merasa sedang diajak berbicara secara pribadi. Bagi seorang yang sudah menjadi penyiar, hal ini akan mudah dibayangkan.

Sentuhan pribadi bagi pendengar akan terasa nyaman, bila diperlakukan secara private, dan akhirnya dapat mensugesti pendengar dengan apa yang disampaikan seorang penyiar. Salah satu caranya adalah mengenal dan memahami target audience. Siapa yang diajak berbicara, dan apa yang sedang dibicarakan. Pemilihan Lanjutkan membaca ‘PRIVATE ANNOUNCER’

10
Mar
08

Mempertahankan Sang Bintang

EMOSI! Itulah perasaan yang biasanya langsung muncul jika mendengar penyiar atau staff kita – apalagi yang terbaik – dibajak oleh radio kompetitor. Sudah capek-capek mendidik, malah diambil orang lain. Setelah masalah ini terlanjur terjadi, barulah kita menyadari bahwa kita ternyata memiliki sumber daya unggul.

HR Hijacking bisa kita hindari jika dari awal sebagai pengelola radio kita memilki paradigma positif terhadap crew kita. Posisikan mereka sebagai BINTANG. Merekalah ARTIS yang kita punya, yang harus kita jaga dan kita rawat untuk menarik pendengar dan pengiklan.

Lanjutkan membaca ‘Mempertahankan Sang Bintang’

03
Mar
08

Tips membuat wawancara radio menarik

wawancara Perbincangan atau wawancara di radio harus disajikan dengan menarik agar laku dijual kepada pendengar. Seringkali kita mendapati, sebuah wawancara radio yang berlarut-larut dan membosankan. Jika sudah begini, pendengar akan lebih memilih mendengarkan lagu daripada mengikuti obrolan di radio kita.

Menarik dan tidaknya sebuah wawancara radio sangat tergantung pada 3 faktor utama, yaitu:

Lanjutkan membaca ‘Tips membuat wawancara radio menarik’




B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 573.160 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s